Motor Besar pun Berhenti Untuk Dawet Hitam

Wheel Story: Day 116, Tehran – Iran

August 17, 2015 Comments Off on Panjang Sejarah Indonesia yang Belia Featured

Panjang Sejarah Indonesia yang Belia

Genap sudah usia pemerintahan RI secara politik di angka 70.

Fondasi yang kuat sudah ada, dan tinggal dilanjutkan. Sekarang, semua terbalik-balik. Sejarah seolah masa lalu saja, dan hari ini adalah cikal bakal masa depan.

Buat sebuah negara, usia segini keitung masih belia. Amerika Serikat sudah 239 tahun. Sudan Selatan mungkin masih 4 tahun secara politik. Tapi dari sebuah perhitungan rata-rata usia negara yang kita kenal sekarang, dari semua negara, rata-rata usia negara ialah 150 tahunan. So, Indonesia masih belajar mengurus diri. Apalagi buat negara yang sebesar kita ukurannya, usia 70 tahun masih sangat hijau.

Tapi sebelum kita jadi NKRI, kita pernah menjadi kerajaan besar yang diakui hingga mancanegara. Usianya bukan puluhan tahun. Ratusan tahun diarungi dari masa ke masa dan begitu lengkap pastinya semua dokumen kenegaraan selama itu. Bukan seperti ngurus arisan kecil. Sayangnya, dokumen itu masih tercecer-cecer.

Untuk penemuan situs yang ditengarai bekas kerajaan pun, kita lebih mementingkan membangun ruko-ruko dan jalan aspal disekitarnya. Coba lihat di China, dimana sebuah bekas situs kerajaan langsung diamankan dan ditutup bagi pembangunan guna menguak tabir rahasia sebuah cikal bakal negara.

Penting? Banget!

Semua itu supaya kita gak selalu harus mulai dari nol lagi dan dari nol lagi.

Fondasi yang kuat sudah ada, dan tinggal dilanjutkan. Sekarang, semua terbalik-balik. Sejarah seolah masa lalu saja, dan hari ini adalah cikal bakal masa depan. Faktanya adalah, masa lalu yang membesarkan masa depan kita.
Gak mungkin kan negara yang usianya 70 tahun udah punya peninggalan-peninggalan seusia candi-candi yang ada di Sumatera, Jawa, Bali, bahkan arca-arca di NTT dan Sulawesi. Semua itu ada sejarahnya dan ada penguasa dan kekuasaannya.

Ayo hargai di usia 70 tahun ini sejarah panjang kita. Bukan hanya pahlawan kemerdekaan yang kita besar-besarkan, tapi mesti membesarkan jejak-jejak sejarah yang jauh lebih lama lagi. Tanpa itu, kita tidak punya apa-apa. Bahkan tanah air ini pun tidak akan ada bila kekuasaan besar zaman dahulu tak mampu menjaga serangan dari luar.

Hiduplah Indonesia Raya.

Kalimat seruan ini nyata dalam lagu kebangsaan. Mengapa diambil dengan kata ‘hiduplah’, bukan ‘jayalah’ atau ‘menanglah’. Hidup itu tidak mati. Mati itu sempat terjadi untuk kerajaan-kerajaan kecil yang terpecah belah. Itu sebuah ketakutan bagi masyarakat kita. Mungkin usia kita tak abadi, tapi sebuah negara tak boleh mati seumur manusia. Maka, hiduplah.

Untuk hidup, jagalah apa yang sudah ada. Jangan bongkar pasang. Jangan terbiasa dengan memulai dari nol lagi dan dari nol lagi.

Comments are closed.