7 Perlengkapan Wajib Buat Piknik

June 24, 2013 Comments Off on Pengalaman Galih Donikara Mendaki Dahi Langit di Everest Hiking, Individual, Less Known, Travel

Pengalaman Galih Donikara Mendaki Dahi Langit di Everest

Berawal dari kecintaannya pada pramuka saat sekolah dasar dan kegemarannya membaca novel 5 sekawan melatari misi Galih Donikara untuk mengharumkan nama Indonesia melalui pendakian gunung beda benua.

Galih Donikara adalah salah satu dari beberapa orang Indonesia yang pernah mendaki puncak Mount Everest di Himalaya (Nepal). Pria kelahiran Bandung, 19 Agustus 1965 ini memiliki segudang pengalaman mendaki beberapa gunung beda dunia yang terbilang sulit.

Galih Donikara adalah salah satu dari beberapa orang Indonesia yang pernah mendaki puncak Mount Everest di Himalaya (Nepal). Pria kelahiran Bandung, 19 Agustus 1965 ini memiliki segudang pengalaman mendaki beberapa
gunung beda dunia yang terbilang sulit. Ia berbagi cerita pada Dlajah tentang pengalamannya menggapai langit tinggi di Everest.

Gunung Everest sendiri merupakan gunung tertinggi di dunia yang puncaknya mencapai jarak paling jauh dari paras laut. Rabung puncaknya menandakan perbatasan antara Nepal dan Tibet. Nama Everest diambil dari Sir George Everest, seorang surveyor-general India berkebangsaan Inggris. Gunung setinggi 8.850 m dpl ini pertama kali diukur tahun 1856 dengan ketinggian 8.839 m dpl. Gunung Himalaya masih terus bertambah tinggi akibat
pergerakan lempeng tektonik kawasan tersebut.

Galih Donikara menceritakan pengalamannya ketika mendaki Mount Everest pada 1997 dan 2012. Sejak persiapan hingga kembali ke Tanah Air prosesnya memakan waktu hampir satu tahun. Termasuk di dalamnya persiapan fisik sekira 6 bulan ditambah waktu pendakian selama 3 bulan. Ini jelas bukanlah waktu yang singkat.

  • Galih Donikara
  • Galih Donikara
  • Galih Donikara

Meskipun sebelumnya ia sudah mendaki Mount Everest namun dalam pendakian yang kedua kali ia tetap melakukan persiapan fisik, mental, dan skill. Latihan fisik seperti lari, renang, dan panjat tebing sangat penting dilakukan. Teori dan kemampuan dasar teknik mendaki wajib dikuasai. Selain itu, penting pula mempelajari kondisi alam dan lingkungan dari gunung yang akan didaki.

Bagi Galih yang aktif dalam dalam organisasi WANADRI, mendaki gunung bukanlah kegiatan spontan tanpa persiapan. Tanpa persiapan mental, fisik, dan skill maka pendakian dapat berakibat fatal, apalagi bila gunung tersebut letaknya beda benua.

Pendekatan obyektif yang dimaksud Galih adalah kesulitan alam seperti akses, cuaca, perizinan, habitat, dan topografi gunung.

Sedangkan pendekatan subjektif berupa faktor internal seperti keahlian, kemampuan, dan perilaku menghargai adat-istiadat setempat.

Sebelum pendakian, Galih juga harus menjalani serangkaian kesehatan memasuki ruangan dengan kadar oksigen tipis seolah berada di ketinggian tertentu. Ia diberi tantangan untuk menghitung dan mengarang dengan kadar oksigen tipis dimana berefek pada konsentrasi yang menurun pula. Selain kesiapan fisik, emosi juga perlu dilatih. Udara yang sangat dingin di Mount Everest dapat membuat emosi pendaki tidak stabil sehingga perlu berlatih mengontrolnya.

Saat pendakian ke puncak Everest, tidak dapat terburu-buru tanpa proses aklimatisasi terlebih dahulu sebulan dari proses awal pendakian. Tujuan aklimatisasi adalah penyesuaian fisiologis atau adaptasi terhadap lingkungan baru yang akan dimasukinya. Galih Donikara menceritakan ketika melewati ketinggian tertentu, ia dan tim istirahat di camp yang telah disediakan, begitu seterusnya selama sebulan penuh.

Ketika seorang pendaki mengalami gejala pusing maka sebaiknya jangan melanjutkan pendakian terlebih dahulu. Ia perlu beristirahat hingga kondisinya normal dan melanjutkan pendakian secara perlahan.

Melakukan pendakian gunung tertinggi di dunia ini memang berbeda dengan mendaki gunung di negara tropis. Waktu yang tepat untuk mendaki Mount Everest yang bersalju dilakukan malam hari ketika iklim stabil. Apabila mendaki siang hari maka salju akan mencair dan bisa menyebabkan badai.

Berbeda halnya pegunungan di Indonesia yang tidak beratapkan salju (kecuali Gunung Carstensz Pyramid, Papua) banyak sekali pendaki yang nekat mendaki malam hari padahal ini bisa menyebabkan pendaki tersasar. Mendakilah pada pagi hari dan sebisa mungkin sore sudah kembali turun atau bermalam di tenda, kecuali kita telah mengenal gunung tersebut dengan baik.

Bagi Galih Donikara, mendaki gunung merupakan proses untuk mengetahui sejauh mana kebijaksanaan diri menyikapi kehidupan. Baginya mendaki itu layaknya proses pembangunan karakter. Ia pun memberi pesan untuk pendaki lainnya tentang filosofi “Saacan ngalengkah, geus nepi” atau dalam Bahasa Indonesia “Sebelum melangkah, sudah tiba”. Maksudnya seorang pendaki harus cermat mempersiapkan diri agar dapat menghadapi berbagai tantangan selama pendakian, seolah mengalami dan sudah sampai di puncak sebelum pendakian.

Comments are closed.